Pendampingan di Kebonwaru

Kehidupan anak yang penuh dengan keceriaan dan kebebasan seakan tidak pernah dirasakan anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Keseharian mereka diliputi dengan kekhawatiran, kegelisahan, rasa takut, bosan, dan stress menghadapi kerasnya kehidupan di Rumah tahanan (Rutan). Rutan, seperti yang Anda semua ketahui adalah tempat dimana para tersangka menunggu jatuhnya vonis, sebelum status mereka berubah menjadi narapidana. Rutan Kebonwaru, adalah salah satu rutan yang ada di Bandung, dan sama sekali tidak dirancang untuk keberadaan anak-anak.
Layaknya anak Indonesia yang lain, mereka pun berhak mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak-haknya seperti yang tertuang dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mereka berhak mendapatkan aktivitas dan pelayanan yang mendukung proses tumbuh kembangnya. Sementara rutan bukanlah tempat yang layak untuk menunggu jatuhnya vonis bagi anak-anak itu, karena disana berkumpul sejumlah kriminal lain, yang pada akhirnya justru menjadi tempat anak-anak itu ‘mengasah’ kriminalitas mereka.
Di blog ini Anda akan menemukan catatan dari lapangan, yang merupakan pengalaman langsung para pendamping ketika mendampingi anak-anak di rutan. Ada suka, dan duka. Inilah yang terjadi di sana, kami sajikan tanpa pretensi apapun, kecuali untuk berbagi pengalaman.
Selengkapnya mengenai program pendampingan ini, silakan klik di sini. Selamat membaca!
Filed under: Intermezzo | Leave a Comment
Tags: anak-rutan, kebonwaru, program
Hari ini, 7 Mei 2009, kami bersiap lebih pagi untuk berangkat ke Rutan Kebonwaru. Hari akan diselenggarkan Pentas dan Pameran Kreativitas Anak Rutan Kebonwaru. Berbeda dengan kegiatan serupa setahun sebelumnya yang menggunakan ruang besuk yang lebih luas daripada ruang pendidikan yang sering kami gunakan, karena beberapa hal kami hanya diizinkan menggunakan ruang pendidikan yang sebenarnya kurang representative untuk acara pentas dan pameran. Selain itu, waktu yang diberikan kepada kami hanya pada pukul 09.00 WIB sampai dengan 12.30 WIB saja. Namun, hal ini tidak membuat kami patah arang, the show must go on..
Sekira jam 8 pagi, kami mulai memasuki gerbang rutan dan langsung menuju ke ruang pendidikan, tentu saja setekah melewati beberapa pemeriksaan. Kami bersama anak-anak mulai menempelkan hasil-hasil karya dan mempersiapkan seluruh perangkat acara. Kami sempat kebingungan, dengan ruang yang sangat terbatas kami harus memamerkan seluruh hasil karya anak dan menyiapkan panggung pementasan. Ternyata, kesederhanaan kegiatan ini tetap memunculkan kemeriahan yang sangat berarti.
Sekira jam 10.00, acara pun dimulai dengan dipandu dua orang anak rutan sebagai pembawa acaranya. Sebagai pembuka adalah sambutan dari perwakilan pihak Rutan Kelas 1 Kebonwaru yang disampaikan oleh Pak Hari Matahari sekaligus membuka acara Pentas dan Pameran Kreativitas Anak Rutan Kebonwaru.
Acara dilanjutkan dengan pementasan drama yang berjudul “Carita Kabangsatan”. Meski tampak sangat sederhana dengan durasi yang hanya sekira 10 menit saja dan kualitas vocal para pemainnya yang nyaris tidak terdengar, tetapi anak-anak telah cukup berani untuk memainkan scenario yang ditulis oleh mereka sendiri. Segala kekurangan yang ada masih cukup wajar, apalagi bila menilik persiapan dan waktu yang sangat terbatas.
Pementasan yang kedua adalah persembahan musik dari kelompok musik anak rutan yang menamakan dirinya sebagai Norek Band. Mereka menyanyikan dua lagu. Penampilan mereka agak sumbang dan terkesan kurang persiapan. Selidik punya selidik, ternyata grup ini adalah salah satu dari tiga grup yang ada di kelompok Musik yang paling sulit diatur. Meski demikian, mereka tetap tampil percaya diri.
Setelah itu, Dhika dan Yosti tampil ke panggung. Mereka membawakan acara yang diberi judul “Sayembara Dua Putri”. Sebenarnya, kegiatan ini adalah sebuah game untuk membagikan door prize bagi anak-anak yang mampu menjalani beberapa tantangan. Ternyata, sebagian besar anak-anak tampak ragu menerima tantangan dari Dhika dan Yosti, hanya ada seorang anak yang maju dan mau menjalani tantangan.
Selanjutnya, kembali kami dihibur dengan pentas musik. Kali ini dibawakan oleh grup The Little. Mereka menyanyikan dua lagu karangan mereka sendiri. Suasana menjadi sangat meriah dan lebih berasa, terlebih kedua lagu itu menyuarakan isi hati sebagian besar anak-anak rutan.
Di samping pentas drama dan musik, ada juga pembacaan cerita karya anak. Ada dua cerita karangan anak Sastra yang dibacakan oleh Niki. Pembacaan cerita oleh Niki ini diiringi petikan gitar Bram.
Acara kembali dimeriahkan oleh grup musik Teralis. Berbeda dengan dua grup musik sebelumnya, Teralis menyanyikan dua buah lagu dengan selingan pembacaan puisi. Sebuah kreativitas yang cukup apik meski dengan segala keterbatasan.
Dhika dan Yosti kembali ke panggung untuk membagikan hadiah. Kali ini hadiah-hadiah diberikan kepada kelompok-kelompok anak yang telah memberi banyak kontribusi demi terlaksananya kegiatan pentas dan pameran ini.
Sebelum ditutup, acara dimeriahkan dengan persembahan musik dari Bram. Kami pun semua bertepuk tangan dan bergoyang mengikuti petikan gitar Bram. Kami pun merasa sangat bergembira. Akhirnya, dengan segala keterbatasan anak-anak masih dapat menampilkan kreativitas yang cukup menarik.
Di akhir acara, Pak Ustadz sebagai pendamping anak selama di tahanan, memimpin kami berdoa. Dengan antusias dan khidmat, para pendamping dan anak mengamini doa yang Pak Ustadz sampaikan.
Filed under: Kegiatan Mingguan | 1 Comment
Tags: anak kebonwaru, kebonwaru, Unjuk Kabisa
Kebonwaru, 14 Mei 2009
Sudah lebih dari empat bulan kami melakukan pendampingan anak di Rutan Kebonwaru, Bandung, pada caturwulan antara Januari-April 2009 ini. Seyogyanya hari ini kami akan melakukan evaluasi keseluruhan proses pendampingan selama caturwulan ini. Dan sekarang kami mencoba melakukan evaluasi dan refleksi bersama anak-anak di rutan. Hal ini kami lakukan dengan persepsi bahwa anak-anak adalah subjek dari keseluruhan proses pendampingan ini, sehingga mereka mesti dilibatkan dalam merumuskan dan mengevaluasi aktivitas ini. Perlu diketahui, dalam kegiatan pendampingan ini, anak-anaklah yang merumuskan dan menentukan kebutuhan bahkan silabus kegiatan, meski tentu saja tetap kami pandu dan olah kembali.
Evaluasi bersama anak-anak disampaikan dengan sebuah simulasi Ular Tangga. Anak-anak dibagi kepada beberapa kelompok yang terdiri dari 5-6 orang anak. Anak-anak dibimbing para pendamping, diminta untuk membuat lembar Ular Tangga yang menceritakan tentang kronologis mereka sebelum, selama dan setelah mengikuti kegiatan pendampingan. Anak-anak pun diminta memberi pandangan, evaluasi dan refleksi melalui media Ular Tangga tersebut.
Pembuatan Ular Tangga itu sendiri terdiri dari sekurang-kurangnya 5 kolom. Kolom pertama bercerita tentang saat-saat pertama anak-anak masuk rutan dan belum terlibat dalam kegiatan pendampingan. Kolom ke-2 dan ke-3 berisi pandangan dan evaluasi anak ketika mereka mulai ikut serta dalam kegiatan pendampingan. Kolom-kolom selanjutnya bercerita tentang refleksi, harapan dan cita-cita anak setelah mengikuti kegiatan pendampingan.
Di samping kolom-kolom tadi, anak-anak menempelkan gambar-gambar dari klipingan majalalah dan koran. Gambar-gambar ini menunjukkan pandangan, sikap dan perasaan anak terhadap proses pendampingan. Selain itu, lembar Ular Tangga ini pun dilengkapi dengan symbol-simbol ular, tangga dan lain-lain untuk menunjukkan naik atau turunnya pandangan, sikap dan perasaan anak.
Ternyata, pembuatan lembar Ular Tangga ini cukup menyita waktu. Hanya beberapa kelompok saja yang bisa menyelesaikan pembuatan Ular Tangga ini. Anak-anak harus merembukkan bersama pandangan, sikap dan perasaan tentang proses pendampingan. Mereka pun harus mencari gambar-gambar yang bisa mewakilinya. Di samping itu, sebagian besar anak malah asyik membaca dan melihat gambar-gambar yang terdapat dalam majalah dan koran. Maklum selama di tahanan, mereka sangat sulit untuk membaca majalah dan koran.
Di sela-sela kegiatan, seperti biasa saya menyapa dan mengajak bicara beberapa orang anak. Hari ini saya mencoba menyapa dan mengajak ngobrol Ag (15 tahun) yang dalam beberapa pendampingan tampak murung dan kurang bersemangat mengikuti kegiatan. Sebenarnya Ag cukup sehat, tapi ia selalu tampak murung karena selama berada di rutan, keluarganya belum pernah menjenguknya. Saya pun menawarinya untuk mengabari keluarganya baik lewat surat maupun telepon. Akhirnya, Ag memberi saya satu nomor telepon orang tuanya. Ia meminta saya mengabari orang tuanya tentang keberadaannya di rutan dan memohon agar orang tuanya menjenguknya. Tampaklah sedikit senyum di bibir Ag, meski ia masih agak murung.
Saya pun berbicara dengan E (16 tahun). Sebelum ditahan untuk kedua kalinya ini, E telah bekerja sebagai kenek (kondektur) truk yang setiap hari mengangkut barang-barang seperti batu dan pasir. Ia bisa mendapatkan upah harian sampai Rp. 50.000,-. Sayang, ia mesti meringkuk di tahanan karena ia dianggap mencuri accu truk yang sering ia tumpangi. Ternyata, ia mengambil accu itu dalam keadaan mabuk, setelah ia mengonsumsi beberapa butir leksotan. Accu tersebut tidak ia jual, malah disimpan begitu saja di halaman rumah tetangganya. Kebiasaan E mabuk-mabukan telah menjerumuskannya kembali masuk bui.
Akhirnya, kami sampai di penghujung kegiatan. Meskipun kami belum melakukan refleksi secara keseluruhan, tetapi beberapa gambar dan symbol telah memberi gambaran umum evaluasi proses pendampingan. Wallahu a’lam..
meunang Izoel
Filed under: 1 | 1 Comment
Tags: anak kebonwaru, Evaluasi, pendampingan, rutan, ular tangga
SURGA ANAK-ANAK
KARYA NAGUIB MAHFOUZ
”BAPAK!”
”Ya?”
”Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”
”Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”
”Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”
”Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”
”Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”
Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:
”Itu hanya pelajaran agama saja.”
”Kenapa, Pak?”
”Karena kaupunya agama sendiri dan ia punya agama lain.”
”Bagaimana sih, Pak?”
”Kau Islam dan ia Kristen.”
”Kenapa?”
”Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”
”Saya sudah besar sekarang.”
”Masih kecil, Sayangku.”
”Kenapa saya seorang Islam?”
Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:
”Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”
”Dan Nadia?”
”Bapak dan Ibu orang Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”
”Apa karena bapaknya berkacamata?”
”Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”
Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan percakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:
”Siapa yang lebih baik?”
Ia berpikir sejenak, lalu berkata:
”Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”
”Tentu salah satu ada yang lebih baik.”
”Ini baik dan itu juga baik.”
”Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”
”Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”
”Tapi, kenapa?”
Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:
”Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”
”Tidak.”
”Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.”
”Jadi, Nadia itu mode lama?”
Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewrmu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapa pun ia sudah berhati-hati. Dan ia merasa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:
”Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap sepeti bapak dan ibunya.”
”Apakah dapat saya katakan kepada Nadia, bahwa ia mode lama dan dan saya mode baru?”
Segera ia memotong:
”Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”
”Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas lain?”
”Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain.”
”Apa bedanya, Pak?”
”Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”
”Siapa sih Allah, Pak?”
Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu.
”Apa kata Bu Guru di sekolah?”
”Ia membaca surat-surat dari Al-quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”
Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:
”Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”
”Seluruhnya?”
”Ya, seluruhnya.”
”Apa artinya mencipta?”
”Yang membuat segala sesuatu.”
”Bagaimana caranya?”
”Dengan kekuasaan yang agung sekali.”
”Di mana Ia tinggal?”
”Di dunia seluruhnya.”
”Dan sebelum ada dunia.”
”Di atas.”
”Di langit?”
”Ya.”
”Saya ingin melihat-Nya.”
”Tidak bisa.”
”Meskipun melalui televisi?”
”Ya, tidak bisa juga.”
”Tak seorang pun bisa melihat-Nya?”
”Tak seorang pun.”
”Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?
”Para nabi.”
”Para nabi?”
”Ya, seperti nabi kita Muhammad.”
”Bagaimana caranya?”
”Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”
”Kedua matanya tajam sekali?”
”Ya.”
”Kenapa begitu?”
”Allah menciptakannya begitu.”
Kenapa?”
Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:
”Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”
”Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”
”Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”
”Seperti Bapak?”
Ia menjawab sambil menahan tawanya:
”Ia tak ada bandingannya.”
”Kenapa ia tinggal ia di atas?”
”Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”
Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:
”Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”
”Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”
”Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”
”Tapi Ia hidup dan tidak mati.”
”Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”
”Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”
”Dan kakekku masih hidup juga?”
”Kakekmu sudah meninggal.”
”Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”
”Tidak, ia meninggal sendiri.”
”Bagaimana?”
”Ia sakit, dan kemudian meninggal.”
”Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”
Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.
”Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”
”Dan kenapa kakek kenapa meninggal?”
”Sakit dalam ketuannya.”
”Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”
Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:
”Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”
”Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”
”Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”
”Apa mati itu menyenangkan?”
”Tidak, Sayang.”
”Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”
”Selama Tuhan menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”
”Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan?”
”Hmm, Bapak keliru tadi.”
”Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?
”Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”
”Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”
”Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”
”Kenapa?”
”Agar kita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi?”
”Kenapa kita tinggal saja terus di dunia?”
”Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”
”Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”
”Kita kan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi?”
”Di mana?”
”Di atas.”
”Di sisi Tuhan?”
”Ya.”
”Dan kita bisa melihat-Nya?”
”Ya.”
”Tentunya itu bagus kan?”
”Tentu.”
”Kalau begitu, kita harus pergi.”
”Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”
”Dan kakek sudah melakukannya?”
”Ya.”
”Apa yang ia lakukan?”
”Ia telah membangun rumah dan menanan kebun.”
”Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”
Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.
”Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”
”Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak prnah berbuat baik.”
”Ia anak nakal.”
”Tapi ia tidak akan mati.”
”Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”
”Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”
”Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”
Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda tanya, yang kemudian mengendap dalam dirinya. Namun, si kecil tiba-tiba berseru:
”Saya selalu ingin bersama Nadia!”
Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:
”Meski pelajaran agama sekalipun!”
Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga tertawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:
”Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”
Istrinya menyahut:
”Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu kepadanya.”
Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan belaka. Namun, dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya.
(Penerjemah: M. Fudoli Zaini)
Salam hangat,
Dheka Dwi Agusti N
Filed under: Intermezzo, Pelajaran Penting | 1 Comment
Entri Terkini
- contoh ular tangga anak rutan
- Unjuk Kabisa Anak-anak Hebat dari kebon Waru
- membuat ular tangga: pemunculan nilai dari kegiatan 4 bulan di Rutan.
- SURGA ANAK-ANAK
- Mencium bau yang sama…
- Catatan Pendampingan Akhir Tahun 2008
- Tidak Sekedar Memberi
- Drama, Media Pembuka Mimpi Narapidana Anak
- Ide bersastra dalam pendampingan AKH
- Catatan Pendampingan Drama dalam Penjara
- Dheka Dwi Agusti N.
Kategori
- 1 (1)
- Intermezzo (5)
- Kegiatan Mingguan (9)
- konsep pendampingan AKH (3)
- Pelajaran Penting (10)
- Profil Relawan (7)
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=3f57a51b-8e2e-4e0b-aa11-3f8fbd22f8b2)

