dhekaSastra merupakan media pembuka pintu-pintu penemuan, perkembangan serta memberikan petualangan-petualangan yang tidak ada habisnya. Berbagai manfaat dapat dipetik jika bergaul dengan sastra. Pertama dan paling utama, sastra memberi kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan intelektual. Nilai seperti ini akan tercapai apabila sastra dapat memperluas cakrawala anak-anak dengan cara yang menarik, mengasyikkan, menyajikan pengalaman-pengalaman dan wawasan-wawasan baru. Sastra dapat membantu anak mengenali berbagai gagasan yang belum bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sastra dapat menyajikan dan dapat memperkenalkan kesemestaan pengalaman atau universalitas pengalaman kepada anak. Sastra memungkinkan kita menghidupi berbagai kehidupan dan mulai melihat keberagaman, dan kesemestaan pengalaman insani.

Dengan bersastra maka secara sadar maupun tidak sadar, pemerolehan dan perkembangan bahasa akan kian meningkat. Bertambahnya kosakata turut pula meningkatkan keterampilan bahasa anak-anak dan perkembangan lainnya. Perkembangan kognitif. Kian terampil anak-anak berbahasa, maka kian sistematis pula cara berpikir mereka (Mussen, Conger & Kagan, 1979: 234).

Perkembangan kepribadian. Kepribadian seorang anak akan jelas terlihat pada saat dia mencoba memperoleh kemampuan untuk mengekspresikan emosinya, mengekspresikan empatinya terhadap orang lain, dan mengembangkan perasaannya mengenai harga diri dan jati dirinya. Sastra mempunyai peranan penting dalam perkembangan keperibadian anak-anak. Tokoh-tokoh dalam karya sastra secara tidak sadar telah mendorong atau mengajari anak-anak mengendalikan berbagai emosi, misalnya benci, senang, takut, cemas, bangga, angkuh, sombong, dan lain-lain. Bahkan untku menolong anak-anak untuk menghilangkan stress telah digunakan bibliotherapy, sebuah istilah bagi suatu interaksi anatar pembaca dan sastra.

Joan Glazer (1981) memperkenalkan empat cara sastra berkontribusi terhadap perkembangan emosional, Pertama, sastra memperlihatkan kepada anak-anak bahwa banyak dari perasaan mereka dialami juga oleh anak-anak lainnya, dan bahwa semua itu sebenarnya wajar dan alamiah. Kedua, sastra menjelajahi serta meneliti perasaan dari berbagai sudut pandang, memberikan suatu gambaran yang lebih utuh, bulat dan integral, serta memberi dasar bagi penamaan emosi tersebut. Ketiga, perilaku para tokoh memperlihatkan berbagai pilihan mengenai cara-cara menggarap emosi tersebut. Keempat, sastra turut memperjelas bahwa seorang manusia mengalami berbagai perasaan dan bahwa perasaan-perasaan tersebut kadang justru bertentangan dan memperlihatkan konflik.

Perlu diperhatikan, Boen S. Oemarjati (1992) telah memperingatkan bahwa sastra tidaklah menyuguhkan pengetahuan dalam bentuk jadi, seperti halnya ilmu kimia, misalnya. Sastra pada hakikatnya menyajikan suatu kemungkinan dalam menanggapi suatu permasalahan yang jalinannya telah digariskan oleh pengarangnya. Kenyataan yang disajikan sastra bukan untuk diperiksa kebenaran empirisnya, melainkan bersifat mengimbau pembacanya untuk menyelam, menggali, dan menemukan nilai.

Salam.

Dheka Dwi Agusti N.



No Responses Yet to “Ide bersastra dalam pendampingan AKH”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply