Mencium bau yang sama…
Akang sareng Eceu, saya hendak berbagi cerita… Sabtu, 24 Januari 2009 lalu saya berkesempatan hinggap di Lapas KELAS II A Anak Pria, Tangerang. Turun dari kendaraan dan mulai menginjakan kaki di tanah Lapas mengingatkan saya pada Kebon Waru. Entah kenapa, rasanya ada sensasi yang sama. Sesekali teringat, di bawah pohon (yang juga ada di halaman depan Lapas Anak) itu saya biasa menunggu dan berkumpul sebelum dan setelah pendampingan, hehe..
Mulai masuk ke dalam Lapas, saya melihat sesuatu yang berbeda, barangkali karena ingatanku kadung teranalogi dengan Kebon Waru. Para sipir mengenakan pakaian batik, entah, mungkin karena hari Sabtu. Tak ada penjagaan yang begitu ketat. Saya dengan lengang masuk ke dalamnya. Kondisi Lapas terlihat lebih kondusif, dengan pagar dicat putih, dan tembok bercat warna-warni, warna-warnanya segar. Banyak tanaman, taman-taman kecil yang dibuat sendiri oleh para anak didik (demikian anak berkonflik hukum disebut). Bahkan, ada tanaman pendek berwarna merah hati yang dibentuk simbol love. Ada juga pagar tinggi yang atasnya dibuat lancip, berderet hingga menyerupai bunga yang kelopaknya sedang mekar.
Aku duduk di dalam aula, lalu melihat anak didik masuk satu persatu memenuhi ruang aula. Ya Tuhan, ternyata banyak juga. Berdasarkan informasi yang kuperoleh di sana terdapat 257 anak didik.
Usia Jumlah Anak
8-12 tahun 4
13-15 tahun 66
16-18 tahun 185
> 19 tahun 2
Jumlah Anak Masa Hukuman
128 > 1 tahun
76 3 bulan- 1 tahun
8 Hukuman pengganti denda
2 Anak Negara
34 Belum mendapat vonis
Mereka semua masuk Lapas dengan latar belakang yang berbeda. Status mereka diklasifikasikan menjadi anak tahanan, anak pidana, dan anak sipil. Anak tahanan adalah anak-anak yang belum mendapatkan vonis hukuman. Anak pidana adalah mereka yang telah mendapatkan vonis dan harus menjalani hukuman. Anak Negara adalah anak yang dititipkan pada Negara (melalui Lapas) hingga anak tersebut mencapai usia 18 tahun. Di Lapas Anak ini ada 2 anak yang berstatus anak Negara yang saat ini masih berusia 8 tahun. Bayangkan, hanya pada saat ia berulang tahun yang ke-18 lah, dia baru bisa keluar dari Lapas tersebut. 10 tahun lagi baru dia akan melihat dunia yang sesungguhnya. Satu lagi yaitu anak sipil, mereka adalah anak yang “dititipkan” di Lapas berdasarkan gugatan dari orang tua mereka. Waktu yang harus dihabiskan di dalam Lapas yaitu hingga ia berusia 18 tahun, kecuali jika orang tua mencabut gugatannya dan menginginkan anakny dikembalikan. Sekitar 3 bulan yang lalu, baru saja 2 anak keluar dan terbebas dari status anak sipil ini.
Di aula ini, aku melihat anak-anak berekspresi. Ada yang bermain teater, dan ada yang membentuk grup band. Ternyata di sini tersedia berbagai kegiatan dan fasilitas untuk anak didik. Di dalam Lapas ada sekolah. SD untuk kelas 4-6. SMP kelas 1-3, juga PKBM Paket C yang setingkat SMA. Semuanya lengkap dengan kantor juga mading masing-masing. Ada Rumah Pintar dan perpustakaan, Pojok Curhat yang nyaman, tanpa bangku yang membuat mereka harus duduk saling berhadapan, tanpa atmosfir introgasi. Ada gereja dan masjid untuk beribadah.
Ada kamar, kamar tersebut dinamakan wisma. Wisma gaharu, herba, akasia, blimbing, cemara, delima, enau, flamboyan, dan teratai. Trus ada ruang tahanan yang belum dapat vonis. Satu kamarnya dihuni 25-30 orang. Mereka tidur menggunakanranjang. Satu ranjang 2 orang. Di satu kamar sel ada satu kamar mandi (2 toilet 3 bak mandi), ada juga wc umum diluar kamar. Ada dapur tempat masak anak-anak, ada ruang tahanan untuk anak yang belum dapat vonis, ada bengkel otomotif lengkap dengan peralatan las dan beberapa jenis motor yang dipakai untuk praktik, ada salon, ada blok buat anak-anak dengan masa hukuman yang pendek. Ada studio musik, ada ruang jahit, ada koperasi, ada ruang data, ada klinik, tentunya ada sel untuk pelanggaran khusus.
Anak-anak disana diberi pengertian, bahwa di sana mereka sedang dididik, disadarkan bahwa keberadaan mereka di sana bukanlah kesialan tapi merupakan arena perenungan untuk masa depan yang lebih baik. Oleh seban itu, di sana tak terdengar kata napi, yang ada hanyalah anak didik. Sepintas begitulah kondisi lapas anak Tangerang, yang menurutku cukup berbeda dengan rutan Kebon Waru di Bandung, tempat kita biasa berkegiatan dulu. Yah, apapun lah yang kita lakukan demi kepentingan terbaik anak itu juga berarti untuk kepentingan terbaik bangsa.
Salam hangat,
Dheka Dwi Agusti N
Filed under: Intermezzo, Pelajaran Penting | 3 Comments
Tags: lapas anak, anak didik, sipir, batik, love, warna-warni, karya anak, anak tahanan, anak pidana, anak sipil, sekolah, SD 4-6, SMP 1-3, PKBM paket C, rumah pintar, ekspresi, teater, grup band, wisma, bengkel, salon, menjahit, studio musik, koperasi, ruang data, klinik, kepentingan terbaik anak

Uhm… Tidak ada Lapas yang ideal. Itu yang justru saya bayangkan. Bahkan seharusnya tidak ada Lapas untuk anak, karena komunitas seharusnya punya tanggung jawab mengatasi ‘kenakalan’ yang seringkali dituduhkan kepada anak. Itulah visi kita ke depan, komunitas yang ‘ramah’ anak.
yang paling buat saya heran, ternyata ada juga orang tua yang “menitipkan” anaknya di Lapas, kenapa yah?.. sayang, saya belum banyak menanyakan kepada petugas, mengenai anak negara. saya yang melihatnya secara langsung benar-benar miris, anak itu masih sangat kecil, matanya bulat, kulitnya putih, rambutnya kemerahan seperti senang bermain bola dan kepanasan, ketika saya menyalaminya terasa sekali jemarinya masih sangat kecil, masih halus. lalu, kelak aku baru bisa bertemu dengannya (di luar Lapas) ketika nanti ia telah berusia 18 tahun! waw, seperti apa ia kelak?
Gambaran anak itu tidak jauh dengan gambaran anak saya. Menitipkannya pada si Eyang selama seminggu saja membuat saya tidak bisa tidur. Dititipkan ke Lapas? Out of my imagination…
Risiko negara berkembang seperti negara kita ini *kalau tidak mau dibilang negara miskin*, orang tua punya beban besar dengan mencari nafkah. Pemerintah sibuk mempromosikan diri dan partainya masing-masing. Sementara anak-anak tidak pernah dilihat sebagai masa depan. Anak-anak kita sekarang adalah beban bagi pemerintah. Makanya sekolah disuruh cari duit sendiri. Bahkan di layar tivi kita lihat bagaimana anak-anak disuruh berkompetisi untuk mencari duit juga, berkedok adu kreativitas… Pledge of Allegiance to what??