Bersiap Untuk Pameran
Sebenarnya, dalam pendampingan kami pada 5 Juni 2010 ini tidak ada materi khusus. Kami hanya akan mendiskusikan undangan pameran dari sebuah lembaga di Yogyakarta pada bulan Juli mendatang. Kami cukup antusias merespon undangan tersebut, karena pameran itu menghadirkan beberapa lembaga/ komunitas se-Indonesia, dan kebetulan komunitas di Bandung yang diundang hanya Kalyanamandira dan satu komunitas lain. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk membangun jejaring dengan lembaga/komunitas lain di Indonesia. Di samping itu, kami dapat semakin keras menyuarakan kampanye kami untuk tidak memenjarakan anak.
Aktivitas diskusi untuk merumuskan kegiatan atau program ini sendiri sering kami lakukan bersama anak, termasuk untuk merumuskan kurikulum dan proses pendampingan. Hal ini kami lakukan tak hanya untuk mendorong partisipasi anak melainkan juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap proses pendampingan.
Anak-anak pun merespon positif kabar ini. Dengan sedikit bercanda, beberapa di antara mereka pun berceloteh,”Kenapa ga ngomong dari kemarin, Kak? Kalo tahu gitu mah kami bakal lukis yang lebih bagus dari yang kemarin.” Perlu diketahui, dalam pendampingan sebelumnya kami telah belajar melukis kaos. Dan sebagian besar menjadikan lukisan kaos ini sebagai unjuk ekspresi mereka, sehingga sebagian besar anak menggambar lambang geng motor atau coretan-coretan tidak jelas. Untung, masih ada anak-anak yang membuat lukisan yang cukup bagus.
Sebelum kami mendiskusikan tentang karya-karya yang akan dipamerkan, Anita dibantu Mayenne dan Dewi membagikan lembaran psikotest kepada anak-anak yang harus diisi dalam waktu 10 menit saja. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat intelegensi anak-anak. Sebenarnya proses ini dilakukan untuk kebutuhan penelitian skripsi Anita tentang kondisi psikologi anak-anak di Rumah Tahanan (Rutan) Kebonwaru. Namun, data-data ini pun dapat menjadi masukan bagi proses pendampingan ke depan.
Setelah Anita, Mayenne dan Dewi mengumpulkan lembar psikotes, kami mulai memandu anak-anak untuk mendiskusikan rencana persiapan pameran. Semula kami mengumpulkan anak-anak dalam sebuah lingkaran besar. Saya mulai menjelaskan kegiatan pameran yang akan dilaksanakan. Kemudian setiap anak diminta untuk menuliskan beberapa keterampilan yang ingin dipelajari dan karya yang akan dipamerkan dalam selembar kertas.
Dari tulisan-tulisan anak ini, kami mengelompokkan anak menjadi 3 kelompok berdasar bentuk keterampilan atau karya yang akan dipamerkan. Beberapa anak yang tertarik untuk membuat lukisan, komik dan gambar-gambar lainnya dikelompokkan ke dalam Kelompok Melukis. Adapun anak-anak yang tertarik dengan kriya-kriya selain melukis atau menggambar dikelompokkan ke dalam kelompok Kriya Bebas. Sedangkan anak-anak yang menyukai tulis-menulis dan mengarang puisi atau cerita pendek dikelompokkan ke dalam kelompok Menulis Sastra.
Selanjutnya, anak-anak berkumpul dengan kelompoknya masing-masing yang dipandu oleh para pendamping. Kelompok Melukis dipandu oleh Bimo, Kelompok Kriya Bebas dipandu oleh Okha, dan Kelompok Menulis Sastra dipandu oleh Anita. Setiap kelompok mendiskusikan karya-karya yang akan dipamerkan. Kelompok Melukis mempunyai kecenderungan untuk menggambar beberapa ilustrasi, khususnya dalam pembuatan komik. Adapun Kelompok Kriya Bebas lebih tertarik membuat beberapa kriya yang pernah kami buat, seperti, Patung Tanah Liat, Wayang Karton dan sebagainya. Dan Kelompok Menulis Sastra berencana menulis beberapa puisi dan cerita pendek.
Kegiatan pendampingan pun berakhir ketika setiap anak di kelompoknya masing-masing telah mempunyai rencana kegiatan masing-masing. Sekilas kegiatan pendampingan hari ini nampak sangat sederhana. Namun, bila kita perhatikan dengan seksama pembelajaran hari ini telah mendorong keterlibatan anak dalam keseluruhan proses dari awal perencanaan, saat pelaksanaan hingga masa evaluasi. Anak-anak pun dimotivasi untuk berkarya sesuai potensi dan bakat masing-masing dengan perencanaan yang cukup matang. Dan anak-anak pun diarahkan untuk mendialogkan proses pembuatan karya-karya mereka sendiri. Boleh jadi beberapa hal yang saya sebutkan nampak sangat sederhana, namun beberapa hal tadi acapkali hilang dalam proses pendidikan yang ada di negeri ini. Anak-anak layaknya bahan mentah yang siap diolah semaunya oleh mesin-mesin pendidikan kita. Potensi dan bakat mereka pun seringkali terabaikan oleh tuntutan pencapaian angka-angka tertentu. Meski dengan segala keterbatasan, kami senantiasa mencoba member ruang yang sangat terbuka bagi potensi dan ekspresi anak. Sehingga potensi dan bakat anak-anak yang berhadapan dengan hukum ini dapat berkembang setelah mereka bebas nanti. Amin… (izoel)
Filed under: Kegiatan Mingguan, Konsep Pendampingan AKH | Leave a Comment
Tag:anak kebonwaru, anak-rutan, hak-anak, hukum, kalyanamandira, kekerasan, kriya, minat, pendidikan, penjara, perlindungan, rumah tahanan, rutan, tahanan

No Responses Yet to “Bersiap Untuk Pameran”